Postingan

Selamat tinggal Orang² yg pernah dikenal

Gambar
Sudah hampir sepekan aku menonaktifkan Instagram dan TikTok. Awalnya terasa aneh. Tangan ini beberapa kali refleks mencari ikon yang biasanya selalu ada di layar ponsel. Ada semacam rasa kosong, seperti kehilangan jendela kecil untuk mengintip kehidupan orang lain. Namun setelah beberapa hari, ada sesuatu yang berubah. Hidup terasa lebih tenang. Pagi tidak lagi dimulai dengan melihat pencapaian orang lain. Siang tidak lagi dipenuhi kabar tentang kehidupan yang bahkan tidak ada hubungannya denganku. Malam tidak lagi habis untuk menonton potongan-potongan kehidupan manusia yang tidak akan pernah benar-benar kukenal. Hari-hari berjalan lebih lambat, tetapi justru lebih nyata. Aku mulai menyadari bahwa sebagian besar kegelisahanku selama ini bukan berasal dari hidupku sendiri, melainkan dari terlalu banyak mengetahui kehidupan orang lain. Terlalu banyak membandingkan. Terlalu banyak mengikuti cerita yang sebenarnya bukan bagianku. Ternyata hidup jauh lebih mudah ketika fokus hanya pada jal...

Sebelum BAB terakhir

Setiap lelaki hidup seolah membawa pena yang tak pernah ia letakkan—menulis dirinya sendiri melalui pilihan-pilihan yang sering kali sunyi dari saksi, melalui kegagalan yang tak selalu dimengerti, dan melalui keberanian kecil yang jarang dirayakan. Ia mungkin mengira sedang menulis sebuah kisah dengan arah yang jelas, padahal yang ia lakukan hanyalah merangkai fragmen-fragmen makna di tengah dunia yang tak sepenuhnya dapat ia kendalikan. Lalu pada akhirnya, ketika napasnya berhenti dan tangannya tak lagi mampu menggenggam apa pun, pena itu berpindah—bukan sebagai kelanjutan, melainkan sebagai pantulan. Orang lain menuliskan bab terakhirnya, menyusun ulang serpihan hidupnya dari sudut pandang mereka yang terbatas, mencintai sebagian, melupakan sebagian, bahkan mungkin menyalahartikan sebagian yang lain. Di situlah letak paradoksnya: seorang lelaki tak pernah benar-benar memiliki akhir dari ceritanya sendiri, namun ia sepenuhnya bertanggung jawab atas seluruh isinya. Maka barangkali yang...

Siang inipun..

Gambar
Aku bersandar di kursi belakang mobil, punggung masih menyimpan sisa lelah dari lokasi inspeksi. Bau oli, besi panas, dan suara dentuman ringan pompa yang tadi kubongkar seakan masih tertinggal di kepala. Overhaul hari ini tidak terlalu rumit, tapi cukup menguras tenaga—bearing aus, sedikit scoring di shaft, dan seal yang sudah menyerah lebih dulu dari seharusnya. Hal-hal kecil yang kalau diabaikan bisa jadi bencana besar. Mobil melaju pelan. Cahaya matahari masuk dari kaca depan, terlalu terang, hampir menyilaukan. Jalanan di luar terlihat bergetar oleh panas. Bahkan udara pun seperti malas bergerak. Di depan, sopir fokus pada jalan. Di sampingnya, seseorang sibuk dengan ponselnya—mungkin mengejar notifikasi, atau sekadar melarikan diri dari siang yang terlalu panjang ini. Sementara aku… hanya diam. Penat itu aneh. Bukan cuma di badan, tapi juga di pikiran. Seperti ada suara kecil yang bertanya, “Ini belum selesai, kan?” Dan memang belum. Kantor masih menunggu. Laporan har...

Day 1 Ramadhan

Gambar
So today… I decided to fast. Not because I’m spiritually glowing. Not because I’m metabolically optimized. But because I thought, “Yeah… I can handle this.” Famous last words. You need to understand something. Since I got sick, I have never skipped lunch. Never. 12 PM is sacred. 12 PM is not a time. 12 PM is a survival strategy. My stomach and I have an agreement: “You don’t burn me, I don’t skip rice.” Very healthy relationship. 10 AM hits. My stomach goes: “Hey… remember "The Last"?” And I’m like, “Oh no. Not the prequel.” Suddenly I feel this little heat in my stomach. Not pain. Just… warm. But my brain? My brain goes full Netflix disaster documentary. “This is it.” “Season 2: The Return of Gastritis.” “Featuring Vertigo — now spinning in IMAX.” I’m already imagining myself collapsing dramatically in slow motion. In reality? It lasted 30 minutes. Thirty. Minutes. It left like a polite guest: “Alright bro, just checking in.” And now it’s 1:30 PM. I’m fine. No sp...

Semuanya bertahap

Gambar
Senin, 2 Februari foto : Langit sore ini. Sore ini langit kembali lapang. Tak ada mendung yang menggantung, seolah hari ingin memberi jeda setelah beberapa waktu terasa berat. Aku menutup komputer kantor dengan perasaan setengah lega—hari ini ada jadwal fisioterapi leher. Rutinitas baru yang mau tak mau harus kuterima.  Perubahannya memang belum terasa besar, masih samar, seperti bayangan yang bergerak pelan. Tapi setidaknya ada tanda: rasanya tidak lagi sekaku kemarin. Barangkali begini cara tubuh berdamai—perlahan, tapi jujur. Semoga segera sembuh, batinku, nyaris seperti doa yang diulang tanpa suara. Sebelum pulang, bos memanggilku singkat. Nada suaranya datar, tapi aku sudah hafal maknanya. Ia menyebutkan sesuatu tentang instalasi baru, tentang kebutuhan pompa yang perlu dihitung. Tidak terdengar seperti perintah, juga bukan sekadar saran. Di antara dua nada itu, justru tersimpan tuntutan. Aku tahu, hal-hal semacam ini tidak pernah benar-benar berhenti di ucapan. Su...

Selamat sore Februari

Minggu, 1 Februari 2026 Seharian ini matahari tak pernah menampakkan diri. Langit kelabu menggantung rendah, seolah enggan memberi harapan. Pakaian yang tergantung di jemuran barangkali sudah dua hari di sana—lembap, dingin, dan tak kunjung kering. Pagi tadi hidungku tersumbat, bersin datang beberapa kali, mengganggu napas dan pikiran. Tapi syukurlah, menjelang siang semuanya mereda. Tubuhku kembali tenang, meski pikiranku belum. Kemarin aku kembali duduk di ruang praktik dokter, seperti rutinitas yang sudah kuhafal. Ia menanyakan kabar leherku, membaca ulang hasil rontgen yang kuambil dua minggu lalu. Suaranya datar, menenangkan—tidak ada masalah serius, katanya. Hanya spasme otot yang membuat tulang leherku melurus. Ia berpesan agar aku lebih peduli pada caraku duduk, terutama saat bekerja. Postur. Waktu. Dan tentu saja, beberapa gerakan peregangan yang harus kulakukan dengan disiplin. Sore ini aku menelpon ayahku. Rasanya sudah lama sekali—terakhir sebulan lalu, saat ia mengucapkan ...

Seminggu hujan terus

Sudah seminggu hujan turun tanpa benar-benar pamit. Selalu di malam hari, selalu setelah kota berpura-pura tidur. Pagi-pagi orang bangun dengan jalanan yang masih basah, aspal mengilap seperti menyimpan rahasia, dan udara dingin yang menempel di kulit lebih lama dari biasanya. Genangan kecil berdiam di tepi trotoar, memantulkan langit pucat yang belum sepenuhnya sadar. Bau tanah basah bercampur sisa knalpot dan daun gugur—aroma yang anehnya terasa akrab, seperti kenangan yang tidak pernah diminta untuk diingat. Langkah-langkah pagi terdengar lebih pelan, seolah semua orang sepakat menahan suara agar tidak membangunkan sesuatu yang masih bersembunyi di balik awan. Hujan itu tidak deras, tidak pula ringan. Ia datang cukup lama untuk membuat orang bertanya-tanya: apakah ini hanya cuaca, atau ada sesuatu yang sedang diulang oleh waktu. Dan di antara jalanan basah itu, hari kembali dimulai—dengan beban lama yang belum sempat kering, dan harapan baru yang belum tahu akan berteduh di mana. Ad...