Seminggu hujan terus

Sudah seminggu hujan turun tanpa benar-benar pamit.
Selalu di malam hari, selalu setelah kota berpura-pura tidur.
Pagi-pagi orang bangun dengan jalanan yang masih basah, aspal mengilap seperti menyimpan rahasia, dan udara dingin yang menempel di kulit lebih lama dari biasanya.
Genangan kecil berdiam di tepi trotoar, memantulkan langit pucat yang belum sepenuhnya sadar. Bau tanah basah bercampur sisa knalpot dan daun gugur—aroma yang anehnya terasa akrab, seperti kenangan yang tidak pernah diminta untuk diingat. Langkah-langkah pagi terdengar lebih pelan, seolah semua orang sepakat menahan suara agar tidak membangunkan sesuatu yang masih bersembunyi di balik awan.
Hujan itu tidak deras, tidak pula ringan. Ia datang cukup lama untuk membuat orang bertanya-tanya: apakah ini hanya cuaca, atau ada sesuatu yang sedang diulang oleh waktu.
Dan di antara jalanan basah itu, hari kembali dimulai—dengan beban lama yang belum sempat kering, dan harapan baru yang belum tahu akan berteduh di mana.

Adek perempuanku nginap semalam.
Ibu bilang dia mau ke Bandung.
Entah urusan apa, ibu tidak menjelaskan, dan aku tidak bertanya. Di kepalaku, banyak hal berjalan tanpa perlu dijelaskan terlalu panjang.
Pagi-pagi dia sudah minta uang belanja. Katanya mau ke pasar, beli bahan makanan.
Aku mengangguk saja.
Seperti hidup orang-orang pada umumnya—berangkat dari kebutuhan paling dasar di pagi hari. 
Setelah sarapan, aku langsung beranjak ke kantor.
Naik angkot, seperti biasa.
Supir angkot hari ini banyak bercerita. Tentang setoran yang makin berat, tentang penumpang yang makin jarang, tentang narik yang sekarang tidak seperti dulu. Kadang dapat, kadang pulang hanya membawa lelah. Aku mendengarkan setengah, sisanya larut di jalanan yang masih basah. Mungkin dia hanya butuh telinga, bukan jawaban.
Ya begitulah hidup di tepian pusat kota.
Kami tidak benar-benar di tengah, tapi juga tidak sepenuhnya di pinggir. Semua orang membawa masalah masing-masing, menggenggamnya erat-erat sambil pura-pura biasa saja.
Aku melayangkan pandanganku ke sungai Cisadane.
Airnya naik, cokelat keruh, bergerak pelan tapi penuh tenaga. Itu tanda hujan semalam cukup lama, cukup serius. Sampah-sampah kecil tersangkut di pinggir, seperti hal-hal yang gagal ikut hanyut namun juga tak punya tempat untuk kembali.
Beberapa menit kemudian, aku sampai di kantor.
Bangunan itu berdiri sama seperti kemarin—diam, dingin, dan menunggu. Aku melangkah masuk dengan tanggung jawab yang sudah lebih dulu bercokol di kepala, sebelum pintu dibuka, sebelum hari benar-benar dimulai.
Dan seperti hujan yang datang malam demi malam, aku tahu:
hari ini pun akan berjalan, entah dengan jawaban atau hanya dengan rutinitas yang diulang.

Postingan populer dari blog ini

Semuanya bertahap

Day 1 Ramadhan

Kenapa nulis lagi?