Semuanya bertahap

Senin, 2 Februari

foto : Langit sore ini.

Sore ini langit kembali lapang. Tak ada mendung yang menggantung, seolah hari ingin memberi jeda setelah beberapa waktu terasa berat. Aku menutup komputer kantor dengan perasaan setengah lega—hari ini ada jadwal fisioterapi leher. Rutinitas baru yang mau tak mau harus kuterima.

 Perubahannya memang belum terasa besar, masih samar, seperti bayangan yang bergerak pelan. Tapi setidaknya ada tanda: rasanya tidak lagi sekaku kemarin. Barangkali begini cara tubuh berdamai—perlahan, tapi jujur. Semoga segera sembuh, batinku, nyaris seperti doa yang diulang tanpa suara.

Sebelum pulang, bos memanggilku singkat. Nada suaranya datar, tapi aku sudah hafal maknanya. Ia menyebutkan sesuatu tentang instalasi baru, tentang kebutuhan pompa yang perlu dihitung. Tidak terdengar seperti perintah, juga bukan sekadar saran. Di antara dua nada itu, justru tersimpan tuntutan. Aku tahu, hal-hal semacam ini tidak pernah benar-benar berhenti di ucapan. Suatu hari nanti—mungkin minggu depan, mungkin lebih cepat—akan ada pertanyaan lanjutan. Progres. Angka. Perhitungan.

Aku mengangguk, menyimpan kalimat itu di kepala. Dalam perjalanan pulang, pikiranku sudah bekerja. Lebih baik kupelajari dari sekarang, kupetakan pelan-pelan. Karena kepanikan selalu datang pada mereka yang menunda. Dan aku sudah terlalu sering belajar dengan cara yang mahal.

Sorenya di Rumah Sakit antrian fisioterapi ternyata cukup panjang. Nama-nama dipanggil perlahan, seolah waktu sengaja diperlambat. Aku melirik jam, lalu mengambil keputusan sederhana: makan dan salat dulu. Tak ada yang benar-benar tahu kapan sesi akan dimulai. Dalam ketidakpastian seperti itu, lebih baik mendahulukan yang pasti..

foto : Antrian fisioterapi

Aku membeli sebungkus bubur. Hangat, mengepul pelan. Dulu, aku tidak begitu suka makanan lembek. Ada rasa enggan setiap melihat teksturnya—terlalu lunak. Aku bahkan tak ingat kapan pertama kali bisa menikmati bubur tanpa protes dalam hati. Mungkin sejak Jogja. Entah karena lapar atau apalah.
Aku terdiam sejenak, menyadari satu hal yang terasa ganjil namun nyata: keadaan benar-benar mengubah seseorang. Selera, kebiasaan, bahkan hal-hal kecil yang dulu kita anggap sepele.
Aku belajar satu hal hari ini—kadang kita tidak berubah karena ingin, tapi karena perlu.

Sore semakin turun. Jalanan tetap ramai, tapi pikiranku mulai tenang. Ada tubuh yang sedang disembuhkan, dan ada masa depan kecil yang sedang kusiapkan—diam-diam, setahap demi setahap. Mungkin aku akan sampai rumah agak malam nanti.

foto : fisioterapi
foto : pulang malam

Postingan populer dari blog ini

Day 1 Ramadhan

Kenapa nulis lagi?