Selamat sore Februari

Minggu, 1 Februari 2026
Seharian ini matahari tak pernah menampakkan diri. Langit kelabu menggantung rendah, seolah enggan memberi harapan. Pakaian yang tergantung di jemuran barangkali sudah dua hari di sana—lembap, dingin, dan tak kunjung kering. Pagi tadi hidungku tersumbat, bersin datang beberapa kali, mengganggu napas dan pikiran. Tapi syukurlah, menjelang siang semuanya mereda. Tubuhku kembali tenang, meski pikiranku belum.

Kemarin aku kembali duduk di ruang praktik dokter, seperti rutinitas yang sudah kuhafal. Ia menanyakan kabar leherku, membaca ulang hasil rontgen yang kuambil dua minggu lalu. Suaranya datar, menenangkan—tidak ada masalah serius, katanya. Hanya spasme otot yang membuat tulang leherku melurus. Ia berpesan agar aku lebih peduli pada caraku duduk, terutama saat bekerja. Postur. Waktu. Dan tentu saja, beberapa gerakan peregangan yang harus kulakukan dengan disiplin.

Sore ini aku menelpon ayahku. Rasanya sudah lama sekali—terakhir sebulan lalu, saat ia mengucapkan selamat ulang tahun dengan suara singkat, seperti biasa. Begitulah hubungan kami. Tidak banyak kata. Tidak banyak basa-basi. Hanya hal-hal yang dianggap perlu. Dalam percakapan itu, ia bercerita bahwa keluarga kami masih berjuang. Ada biaya rumah yang harus dipenuhi, uang kuliah adikku yang tak bisa menunggu. Nada suaranya tenang, tapi aku tahu di balik ketenangan itu ada beban yang terus ia pikul.

Setelah telepon terputus, aku memutuskan keluar rumah. Jalan sore. Bukan untuk tujuan apa-apa—hanya untuk membiarkan pikiranku tercerai-berai di udara luar. Aku menyusuri gang kompleks, melangkah perlahan, menoleh ke kanan, ke kiri. Dan di antara langkah-langkah itu, sebuah kesadaran mengendap pelan-pelan: aku harus melakukan lebih banyak untuk keluargaku. Lebih giat. Lebih berani. Aku tidak bisa terus seperti ini. Banyak hal yang ingin kucapai dalam hidup, tapi untuk saat ini, memastikan keluargaku hidup dengan layak adalah sesuatu yang kupaku erat di benakku.

Anak-anak bermain bola di gang, tawa mereka pecah tanpa beban. Pemandangan yang biasa, namun entah kenapa terasa begitu dekat. Dulu aku juga seperti mereka—berlari tanpa tahu apa-apa tentang dunia. Di masa itu… ah, masa itu. Pasti ayahku sedang berjuang mati-matian, sendirian, untuk memastikan kami tetap makan dan sekolah. Kini, perlahan aku mulai mengerti rasanya.

Di beberapa rumah, burung-burung tergantung dalam sangkar. Mainan para bapak di kompleks ini. Sesuatu yang sejak dulu kubenci. Aku tak pernah nyaman melihat burung yang punya sayap, namun dipaksa diam. Ironis. Terlahir untuk terbang, tapi hidup dalam batas besi.
“Hei… aku bukan burung dalam sangkar,” gumamku pelan.
“Tapi kenapa aku merasa terpenjara?”
Apakah jeruji itu datang dari luar, atau justru aku sendiri yang membangunnya?
Langkahku melambat. Dadaku terasa sesak, bukan oleh lelah, tapi oleh kesadaran. Mungkin… sudah saatnya aku mengepakkan sayapku lebih tinggi.

Postingan populer dari blog ini

Semuanya bertahap

Day 1 Ramadhan

Kenapa nulis lagi?