Sebelum BAB terakhir
Setiap lelaki hidup seolah membawa pena yang tak pernah ia letakkan—menulis dirinya sendiri melalui pilihan-pilihan yang sering kali sunyi dari saksi, melalui kegagalan yang tak selalu dimengerti, dan melalui keberanian kecil yang jarang dirayakan. Ia mungkin mengira sedang menulis sebuah kisah dengan arah yang jelas, padahal yang ia lakukan hanyalah merangkai fragmen-fragmen makna di tengah dunia yang tak sepenuhnya dapat ia kendalikan. Lalu pada akhirnya, ketika napasnya berhenti dan tangannya tak lagi mampu menggenggam apa pun, pena itu berpindah—bukan sebagai kelanjutan, melainkan sebagai pantulan. Orang lain menuliskan bab terakhirnya, menyusun ulang serpihan hidupnya dari sudut pandang mereka yang terbatas, mencintai sebagian, melupakan sebagian, bahkan mungkin menyalahartikan sebagian yang lain. Di situlah letak paradoksnya: seorang lelaki tak pernah benar-benar memiliki akhir dari ceritanya sendiri, namun ia sepenuhnya bertanggung jawab atas seluruh isinya. Maka barangkali yang...